Selasa, 05 Februari 2013

Cara Tuhan Menjaga Kita


Konon, ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara unik untuk mendewasakan anak laki-laki di suku mereka. 
Bila seorang anak laki-laki dianggap cukup umur untuk didewasakan, ia akan di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup. 
Seorang anak laki-laki pun dibawa jauh ke dalam hutan. Ketika hari sudah sangat gelap, tutup matanya akan dibuka, dan orang yang mengantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia dinyatakan diterima sebagai pria dewasa bila ia tidak berteriak, apalagi menangis hingga malam berlalu. 
Malam sangatlah gelap, ia bahkan tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri, dan ia mulai ketakutan. Hutan mengeluarkan suara-suara menyeramkan, auman serigala, dan bunyi dahan bergemerisik. Tapi ia harus diam, tidak boleh berteriak atau menangis. Ia harus berusaha lulus dalam ujian ini. 
Satu detik terasa berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mulai membasahi sekujur tubuhnya. 
Ketika cahaya pagi mulai tampak, ia begitu gembira. Ia melihat sekeliling dan kemudian menjadi begitu kaget ketika ia mengetahui ayahnya berdiri tak jauh dibelakangnya, dengan posisi siap menembakkan anak panah, dengan pisau terselip dipinggang, menjagai anaknya sepanjang malam. 
Seperti sang Ayah, seperti itulah Tuhan bekerja menjaga kita. Setiap kali kita merasa hidup terlalu kejam dan bertanya-tanya mengapa Tuhan melepaskan kita ke dunia yang sulit ini, Ia sebenarnya tetap menyertai kita. 

Mengambil Alih Tugas Tuhan


Seorang anak kecil sedang bermain sendirian dengan mainannya.
Sedang asyik-asyiknya bermain, tiba-tiba mainannya rusak!
Ia mencoba membetulkannya sendiri, tapi rupanya usahanya tidak berhasil. Ia pun mendatangi ayahnya untuk memintanya membetulkan mainan itu. 
Sambil memperhatikan, ia terus memberi instruksi pada ayahnya, “Ayah, coba lihat bagian sebelah kiri, mungkin disitu kerusakannya.” Ayah menurutinya, tapi ternyata belum betul juga mainannya. 
Maka dia memberi komentar lagi, ”Oh, bukan disitu, Yah, mungkin yang sebelah kanan, coba lihat lagi.” Kali ini Ayah juga menurutinya, tapi lagi-lagi mainannya itu belum betul.
Kalau begitu coba yang di bagian depan, Yah, mungkin masalahnya ada disitu.” 
Kali ini Ayah balik berkomentar, “Sudah, kalau kamu memang bisa, mengapa tidak kau kerjakan sendiri saja? Jangan ganggu Ayah, Ayah masih harus mengerjakan yang lain.” 
Hampir putus asa karena mencoba untuk membetulkan sendiri dan masih belum berhasil, ia kembali pada ayahnya sambil merengek. “Tolonglah Yah, aku suka sekali mainan ini, kalau rusak begini bagaimana? Tolong Ayah betulkan.” 
Karena tidak tega mendengar rengekan anaknya, Ayah pun menyerah, “Baiklah. Mari Ayah betulkan mainanmu. Tapi, yang harus kamu lakukan adalah duduk dan perhatikan Ayah bekerja. Jangan menyela.” 
Ketika Ayahnya sedang memperbaiki mainannya, si anak mulai berkomentar lagi, ”Jangan yang itu Yah, sepertinya yang rusak ada di bagian lain.” 
Kali ini ayahnya berkata, ”Bila kau masih berkomentar, mainan ini akan ayah lepaskan dan silahkan kamu berusaha sendiri.” Karena takut Ayahnya akan benar-benar melakukan apa yang dikatakannya, anak itu diam dan hanya duduk manis tanpa mengeluarkan komentar apa pun. 
Seperti anak kecil itu, sering kali kita berkata berserah pada Tuhan, tapi masih ingin mengatur Tuhan tentang bagaimana sebaiknya jalan hidup kita. 
Bila kita sungguh-sungguh pasrah pada kehendak Tuhan, Tuhan yang Maha Tahu dan sangat mencintai kita akan melakukan yang terbaik, lebih dari apa yang bisa kita minta, sesuai dengan kehendak-Nya. 
Banyak manusia mengalami kegagalan dan ketidakseimbangan dalam hidup, karena sering mencoba  mengambil alih pekerjaan Tuhan.

Hidup Tidak untuk Mampir Marah-marah


Seorang Tuan kaya raya sangat menyukai bunga anggrek.
Suatu hari, ia hendak pergi berkelana. Ia berpesan pada bawahannya untuk hati-hati merawat bunga anggrek yang ditinggalnya. 
Selama kepergiannya, bunga-bunga anggrek itu dirawat penuh ketelitian.
Hingga suatu hari ketika sedang menyiram bunga anggrek tersebut, tanpa sengaja seseorang menyenggol rak pohon, membuat semua anggrek berjatuhan, pot-pot pecah berantakan dan pohon anggrek berserakan. 
Semua orang ketakutan, menunggu tuan mereka pulang dan segera meminta maaf dan pasrah menunggu hukuman. 
Setelah sang Tuan pulang dan mendengar kabar itu, ia memanggil para bawahannya. Namun ia tidak marah. Ia bahkan berkata, 
Alasan pertama aku menanam bunga Anggrek adalah untuk dipersembahkan pada orang yang suka pada keindahan Anggrek. Dan yang kedua adalah untuk memperindah lingkungan di daerah ini. Aku menanam anggrek bukan untuk sekedar marah-marah.” 
Walau sangat menyukai bunga Anggrek, dihatinya tidak ada rasa keterikatan. Sehingga ketika harus kehilangan bunga-bunga Anggreknya, tidak ada kemarahan dalam hatinya. 
Terlalu banyak yang kita khawatirkan tentang memiliki dan kehilangan suatu barang dan materi. Ini menyebabkan ketidakstabilan emosi. Dan pada gilirannya, membuat kita merasa tidak bahagia. 
Alangkah baiknya, ketika emosi tinggi dan hendak bertengkar, dengan siapapun, ingatlah, kita dianugrahi hidup dan mampu menjalani hidup bukan untuk sekedar marah. Masih banyak yang bisa kita pedulikan selain sekedar marah-marah.

Filosofi Setoples Penuh Kehidupan


Seorang Professor berdiri di depan kelas Filsafat. Saat kelas dimulai, ia mengambil toples kosong dan mengisinya dengan bola-bola golf.
Kemudian ia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?” Murid-muridnya serempak mengiyakan tanda setuju. 
Kemudian profesor itu menuangkan batu koral ke dalam toples, mengguncangnya dengan ringan. Batu-batu koral pun mengisi tempat kosong di antara bola-bola golf. Kemudian ia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?” Lagi-lagi mereka setuju. 
Selanjutnya ia menabur pasir ke dalam toples. Tentu saja pasir menutupi semuanya. Profesor sekali lagi bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?” Para murid menjawab dengan mantap, “Ya, Sir!” 
Kemudian ia menuangkan dua cangkir kopi ke dalam toples dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir. Melihat itu, murid-muridnya tertawa. 
Sekarang, saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupan kalian. Bola-bola golf adalah hal yang penting; Tuhan, keluarga, anak-anak dan kesehatan. Jika yang lain hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh.” 
Ia melanjutkan, “Batu-batu koral adalah hal-hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil. Dan pasir adalah hal-hal sepele. Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples, maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu-batu koral ataupun bola-bola golf.” 
Hal yang sama akan terjadi dalam hidup kalian. Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal sepele, kalian tidak akan memiliki ruang untuk hal-hal penting. Beri perhatian untuk hal-hal yang penting bagi kebahagiaan kalian.” 
“Bermainlah dengan anak-anakmu, luangkan waktu untuk check-up kesehatan, ajak pasanganmu keluar untuk makan malam. Berikan perhatian terlebih dahulu pada bola-bola gol, hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasirnya.” 
Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, “Kopi mewakili apa, Sir?” 
Profesor tersenyum, “Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan pada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat.”

Jumat, 25 Januari 2013

Semangat

Tak seorang pun tahu kapan "WAKTU" mulai bergerak
Dan entah kapan sang "WAKTU" berhenti berjalan
Yang pasti sampai detik ini "DIA" terus bergerak dan terus bergulir
Entah Anda menghargai "WAKTU" dengan memanfaatkan sebaik-baiknya
Atau selalu menyia-nyiakan "WAKTU" dengan aktivitas yang tidak bermanfaat
"DIA" tetap diam dan terus berjalan tanpa memihak kepada siapa pun
Tanpa membantu siapa pun
Tetapi "DIA" bernilai untuk siapa pun
"DIA" tidak pernah kalah dan tidak akan usang
"DIA" selalu baru, selalu segar dan tegar

Hanya kitalah sebagai manusia
Lambat atau cepat pasti akan termakan oleh proses sang "WAKTU"
"WAKTU" untuk kehidupan seorang anak manusia
Tidak lama dan sangat terbatas
Maka sepantasnya harus kita isi kehidupan ini
Dengan "PRODUKTIVITAS" yang sangat bermanfaat
Baik bagi diri pribadi dan bagi manusia-manusia lainnya

Kesadaran akan "NILAI WAKTU" harus selalu diingatkan
Dipelihara dengan rasa syukur yang besar terhadap "SANG PENCIPTA"
Dengan demikian kita akan menghargai nilai keberadaan "SANG WAKTU"
Dan nilai-nilai diri kita sebagai manusia sehingga kita akan
Selalu berusaha untuk dapat menikmati "PROSES WAKTU" itu
Dengan kualitas kehidupan yang makin lama makin indah
Nikmat, bahagia dan sangat berarti

Nikmati "WAKTU"mu yang masih ada...!!!
Hargai "WAKTU"mu yang masih tersisa...!!!

Menikmati hidup....

Hidup ini hanya semetara, rugi kiranya kalau kita tidak menikmatinya...
Segala cobaan hidup yang kita alami adalah bagian dari hidup itu sendiri dan juga merupakan seni dari hidup..
Tidak akan pernah hidup itu jalan nya selalu lurus, pasti ada masalah yang kita temui dalam menjalani hidup ini..
Pasti ada kebahagian yang menanti kita di ujung masalah yang kita hadapi...
Mereka yang merasa bahagia adalah mereka yang bisa ngejalani hidup dengan bahagia dan mampu mengatasi segala masalah yang dihadapi nya dengan senyuman...
Hidup akan indah kalau kita menjalani nya dengan sabar dan ikhlas, selalulah berfikiran positif... Key ^_^
I will always support you whatever you do ^_^ 
Semoga apa yang kamu lakukan itu lah yang terbaik untuk mu ^_^


Cerita hati....

Semua yang terjadi baik menyenangkan maupun tidak.
Semua yang dijadikan baik senang maupun susah.
Adalah makna yang dapat dimengerti.
Adalah makna yang dapat memberi suatu kaidah hidup.
Menjadikan bijak bila ditelaah dengan hati.
Menjadikannya sempurna bila didampingkan dengan cinta.
Ketika hati sedang berduka karena kehilangan cinta.
Kemanakah rasa itu hilang dan pergi meninggalkan duka.
Jiwa pun goyah serasa ingin terbang melepaskan raga.
Yang ada hanya tetesan-tetesan air yang membasahi pipi.
Meskipun demikian hati tidak akan mati selama darah itu mengalir.
Menjadikan gelembung-gelembung udara dalam pembuluh melantunkan nada.
Bergerak memberikan semangat memacu langkah.
Mencari dan menemukan kembali sang cinta....