Sabtu, 02 Maret 2013

Kekuranganmu, Keistimewaanmu


Einstein kecil yang saat itu berusia 3 tahun belum bisa berbicara. Namun ketika ia mulai bisa bicara, kalimat yang diucapkannya selalu diulang dua kali.
Sampai usia 9 tahun, Einstein masih mengalami kesulitan bicara.
Ibu Einstein menganggap anaknya ‘aneh’ karena merasa janggal dengan ukuran kepala Einstein yang terlalu berlebihan untuk anak seumurnya.
Setelah diperiksakan, ternyata Einstein didiagnosis menderita Benign Macrocephlay yang nantinya bisa menjurus pada keterbelakangan mental.
Einstein juga diketahui pernah menderita Dyslexia(kesulitan mengenali angka dan huruf) dan gangguan mental dengan sindrom Asperger (sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme).
Tapi fakta kemudian berkata lain. Einstein mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistika, dan kosmologi. Ia pun dianugerahi Penghargaan Nobel dibidang Fisika pada tahun 1921.
Kecerdesannya menjadi bahan pembicaraan dimana-mana. Bahkan, Einstein menjadi kata lain yang berarti ‘genius dalam bidangnya’ dalam kamus bahasa Inggris.
Setelah kematiannya, otak Einstein diteliti. Penelitian itu menunjukkan bahwa otak Einstein memang tidak memiliki regio operculum parietal yang dibutuhkan untuk fungsi verbal manusia.
Sementara itu, lobus parietal otaknya lebih besar dari manusia rata-rata, sehingga ia pintar dalam bidang matematika dan kognisi.
Einstein dengan kekurangannya mampu mencari celah untuk membuktikan kecerdasannya.
Jadi, jika Anda merasa tidak mampu melakukan sesuatu, carilah kelebihan Anda dan kembangkan!
I have no special talents, I am only passionately curious.” (Saya tidak punya bakat khusus, saya hanya sangat penasaran) – Albert Einstein.

Jumat, 01 Maret 2013

10 Pribadi yang Disegani dan Disenangi


Untuk menjadi pribadi yang disegani dan disenangi oleh orang lain, kita tak perlu harus punya kedudukan, harta berlimpah, ataupun wajah yang tampan dan cantik.
Ingin tahu pribadi-pribadi seperti apa yang disenangi?
Tulus
Ketulusan menempati peringkat pertama sifat yang paling disukai. Ketulusan membuat kita merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta.
Rendah hati
Rendah diri adalah kelemahan, sedangkan rendah hati adalah kekuatan. Hanya orang berjiwa kuat yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati akan mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia membuat orang yang diatasnya merasa baik dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.
Setia
Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan, selalu menepati janji, punya komitmen kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.
Positive Thinking
Orang yang selalu positive thinking akan berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Ia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, dan lebih suka memuji daripada mengecam.
Ceria
Keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tak suka mengeluh, selalu berusaha meraih kegembiraan, dan punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.
Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Bila melakukan kesalahan, dia akan mengakuinya.
Dan ketika mengalami kegagalan, ia tak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Dan menyadari utuh bahwa dirinya sendiri yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.
Percaya Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Ia selalu tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci. Ketika menghadapi masa sukar, ia tetap tegar dan tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan, tak suka membesar-besarkan masalah kecil, bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Ia tak suka mengungkit masa lalu dan tak mau khawatir dengan masa depan, serta tak mau pusing dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.
Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Bila konflik terjadi, ia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Ia pun selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Selasa, 05 Februari 2013

Kebahagiaan Seumur Hidup


Seorang anak lelaki datang ke lelang sepeda yang diselenggarakan di kantor polisi.
Sepeda-sepeda yang dilelang adalah yang ditemukan di jalan dan tidak ada yang datang untuk mengakuinya sebagai pemilik.
Setiap kali juru lelang membuka penawaran baru, anak itu berkata, “Saya menawar satu dolar, Pak.”
Tetapi akan ada orang yang menawarkan lebih tinggi, sehingga akhirnya setiap sepeda yang dilelang jatuh ke tangan orang yang menawar dengan harga tertinggi.
Dan setiap kali, anak itu selalu ikut menawar satu dolar. Ketika sepeda terakhir yang akan dilelang dibawa ke depan, anak itu berseru, “Saya menawar satu dolar, Pak.”
Penawaran naik terus dan akhirnya juru lelang mengetukkan palu pada tawaran harga sembilan dolar. Ia menunjuk ke arah anak lelaki itu yang duduk di barisan paling depan, sebagai isyarat bahwa anak itulah pemenangnya.
Kemudian juru lelang merogoh sakunya, mengambil uang sebanyak delapan dolar dan meletakkannya di atas meja. Anak itu maju, meletakkan satu dolarnya dalam bentuk recehan disamping delapan dolar tadi, mengambil sepeda barunya lalu berbalik hendak ke luar.
Tiba-tiba diletakkannya sepeda, lalu ia berbalik dan lari mendatangi juru lelang. Dipeluknya orang itu lalu ia menangis.
Jika kau menginginkan kebahagian; untuk sejam-tidurlah selama itu, untuk sehari-pergilah memancing, untuk sebulan-menikahlah, untuk setahun-warisi harta, untuk seumur hidup-tolonglah orang lain.” – Peribahasa Cina
(Chicken Soup for the Soul)

5 Cara Pikiran Positif Membawa Kedamaian dalam Hidup


Ketika kita berpikir positif, kita akan merasakan kedamaian dalam pikiran dan kesadaran kita. Kekuatan pikiran positif terletak pada kebahagiaan yang dibawanya.
Di bawah ini adalah 5 cara pikiran positif membawa kedamaian dalam hidup kita.
1. Membantu pikiran rileks
Berpikir positif merilekskan pikiran kita dan membantu kita menyingkirkan ketegangan, khawatir dan stres yang tidak perlu.
Ketika kita berpikir positif, pikiran tidak akan berada di bawah tekanan apapun, sehingga secara mental, kita lebih santai. Hal ini secara efektif membawa kedamaian dalam hidup kita.
2. Membuang emosi negatif
Berpikir positif akan membantu menyingkirkan segala macam emosi negatif seperti kemarahan, kecemasan, kecemburuan, kecurigaan, dan sebagainya. Karena tidak adanya kedamaian dalam hidup pada dasarnya disebabkan oleh semua emosi negatif.
3. Membantu konsentrasi
Dengan berpikir positif, perhatian kita tidak terosilasi antara hal-hal yang baik dan buruk, melainkan tetap fokus hanya pada hal-hal positif.
Dengan demikian, ini akan membantu kita untuk lebih berkonsentrasi pada pekerjaan, bukan membiarkan pikiran kita mengembara ke pikiran sia-sia yang sebagian besar negatif dan menyebabkan kekhawatiran.
4. Membangkitkan perasaan bersyukur
Berpikir positif membuat kita bersyukur untuk semua hal baik dalam hidup. Dan ketika kita bersyukur, kita berada dalam keadaan damai karena tidak berpikir tentang apa yang tidak kita miliki, tapi tentang apa yang kita miliki.
Dengan mengaktifkan perasaan kepuasan ini, berpikir positif akan membawa kedamaian dalam hidup kita.
5. Membuat kita bahagia
Last but not least, tujuan utama dari berpikir positif adalah untuk merasa baik tentang diri kita dan kehidupan kita. Ketika kita melakukannya, tidak ada negatif yang akan mengganggu ketenangan pikiran kita. Berpikir positif membuat kita fokus pada semua hal-hal positif dan membuat kita bahagia.
Fakta paling menakjubkan tentang berpikir positif adalah bahwa berpikir positif tidak memiliki kekurangan apapun dan tidak pernah berbahaya, bahkan ketika dilakukan berlebihan. Tapi kita tetap harus selalu realistis dan tidak memanjakan diri dalam kegilaan imajinatif. Berpikirlah positif sekaligus rasional.

Hal Kecil yang Luput dari Perhatian Kita


Di suatu acara seminar motivasi, sang motivator meminta para peserta yang menggunakan jam tangan analog untuk membantunya maju ke depan.
Lima peserta tersebut kemudian diminta meletakkan pergelangan tangan di belakang tubuh, agar jam tangan mereka tak terlihat.
Setelah memastikan bahwa semua jam tangan tak terlihat, sang motivator bertanya pada masing-masing peserta tentang usia dan harga jam tangan mereka.
Semua pemilik jam tangan ternyata ingat berapa usia dan harga jam tangan mereka, dan hampir semua jam tangan telah berusia lebih dari satu tahun.
Tersenyum, sang motivator lalu menanyakan pertanyaan kedua,
Nah, bila Anda semua ingat berapa usia dan harga jam tangan Anda, sekarang coba Anda ingat, berapa kali Anda melihat jam tangan itu setiap hari?”
Kelima peserta yang maju mengatakan bahwa mereka sangat sering melihat waktu pada jam tangan mereka. Hampir setiap satu jam sekali, bahkan bisa beberapa menit sekali jika sedang menunggu kedatangan seseorang atau bosan.
Sang motivator melanjutkan,
Anda sudah memiliki jam tangan ini dalam waktu yang lama dan sering memakainya, sering melihat waktu pada jam tangan Anda, bahkan juga ingat dengan harganya. Sekarang silahkan Anda ingat, dengan tangan Anda tetap di belakang, apakah penanda waktu pada jam tangan Anda memakai angka Arab (1, 2, 3) atau angka Romawi (I, II, III)?”
Semua peserta tampak kebingungan dan berpikir keras untuk mengingat apakah penanda waktu pada jam tangan mereka memakai angka Arab atau Romawi. Satu persatu dari mereka pun akhirnya menjawab dengan tak yakin. Setelah itu, mereka dipersilahkan melihat jam tangan mereka untuk memastikan apakah tebakan mereka benar atau salah.
Dari lima peserta,  hanya satu yang benar. Bahkan ada peserta yang menjawab bahwa penanda jam tangannya memakai angka Romawi, padahal jam tangan miliknya hanya memakai penanda strip ( - ).
Percobaan sederhana ini telah ‘menyentil’ kita. Bayangkan saja, jika dalam sehari kita melihat jam tangan kita sepuluh kali saja, sudah berapa ribu kali kita melihat penanda waktu pada jam tangan kita? Namun hal kecil ini justru luput dari pandangan kita.
Kita seringkali menerima kebaikan kecil yang berulang-ulang setiap hari dari orang-orang terdekat kita, keluarga, misalnya. Sudahkah kita berterima kasih pada mereka? Atau justru tidak sadar pada hal-hal kecil yang sebenarnya menopang hidup kita?

Menyelesaikan Masalah


Ketika kita ditimpa musibah, bencana, atau keadaan yang sulit, banyak dari kita yang meratapi nasib dan menyalahkan Tuhan.
Kenapa harus saya yang mengalami ini? Kenapa bukan orang lain saja? Apa salah saya hingga Tuhan membiarkan saya mengalami musibah ini? Bagaimana bisa melanjutkan hidup dalam keadaan seperti ini? Mengapa hidup orang lain tampak begitu mulus dan mudah? Ah, Tuhan tidak adil!
Depresi, kecewa, dan putus asa menghantui diri kita. Namun, jika mau berpikir kembali, bijaksanakah kita kalau selalu menyalahkan keadaan? Apakah masalah akan selesai jika hanya menyalahkan keadaan?
Tidak ada suatu apapun yang kebetulan di dunia ini. Segalanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Sekecil apapun kejadian itu, tentu merupakan kehendak-Nya. Tuhan selalu punya alasan mengapa Dia memberikan keadaan demikian kepada kita. Cermati, sesungguhnya Tuhan ingin Anda mempelajari hikmah dari kejadian tersebut.
Tuhan tidak akan memberi cobaan yang tidak bisa dilewati oleh hamba-Nya. Karena itu, percayalah. Mengapa Tuhan memilih Anda untuk menjalani keadaan sulit yang Anda rasakan, adalah karena Tuhan tahu bahwa Anda mampu melewatinya. Jika orang lain yang mengalami apa yang Anda alami, belum tentu mereka bisa sekuat Anda saat ini.
Setiap kesukaran yang kita alami adalah semata-mata kesempatan untuk mengasah kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Seorang sarjana bekerja sebagai pegawai kantoran dengan gaji tiga juta per bulan. Di lain pihak, seorang berijazah SMP mampu menghidupi keluarga lewat usaha tambak ikan dengan penghasilan berkali lipat. Ya, kesulitan memperoleh pekerjaan sering kali membuat kita berpikir lebih keras, bagaimana cara memperoleh uang. Jika setiap masalah kita hadapi dengan pikiran positif, tentu hasil yang positif juga akan kita dapatkan.
Hidup adalah untuk menyelesaikan masalah. Meski tampak bahagia di luar, setiap orang pasti memiliki masalah sendiri. Ada seorang gadis berparas cantik dari keluarga berkecukupan. Apapun yang ia inginkan hampir selalu didapatkannya. Ia memiliki kekasih yang tampan dan perhatian, di samping masih banyak pria lain yang juga memujanya. Bahagiakah hidupnya? Tidak! Kedua orang tuanya telah lama bercerai, jika bertemu pun sikapnya seperti kucing dan anjing. Masing-masing telah menikah lagi. Tak ingin memilih salah satu pihak, akhirnya si gadis dan adiknya yang masih SMA, memilih untuk tinggal berdua saja.

Hati-hati Bila Tinggi Hati


Seorang cendekiawan pergi menikmati pemandangan laut sore dengan menyewa sebuah perahu nelayan dari tepi pantai. Setelah harga sewa per jam disepakati, ia dan seorang nelayan melaut cukup jauh dari bibir pantai.
Melihat nelayan terus bekerja keras mendayung perahu tanpa banyak bicara, sang cendekiawan bertanya, “Apakah Anda pernah belajar ilmu fisika tentang energi angin dan matahari?”
Tidak,” jawab sang Nelayan singkat.
Cendekiawan melanjutkan, “Ah, jika demikian Anda telah kehilangan seperempat peluang kehidupan Anda.” Nelayan itu hanya mengangguk-angguk, tanpa bersuara.
Apa Anda pernah belajar sejarah filsafat?” tanya cendikiawan lagi.
Belum pernah,” jawab nelayan itu singkat sambil menggelengkan kepalanya.
Cendekiawan pun melanjutkan, “Ah, jika demikian Anda telah kehilangan seperempat lagi peluang kehidupan Anda.”  Lagi-lagi, sang Nelayan hanya mengangguk-angguk, tanpa suara.
Apa Anda pernah belajar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa asing?” tanya cendikiawan.
Tidak bisa.”
Aduh, jika demikian Anda total telah kehilangan tigaperempat peluang kehidupan Anda.”
Tiba-tiba, angin kencang bertiup keras dari tengah laut. Perahu yang mereka tumpangi pun hampir terguling. Namun dengan tenang nelayan itu bertanya pada cendekiawan,
Apakah Anda pernah belajar berenang di tengah lautan?”
Dengan suara gemetar dan muka pucat ketakutan, cendekiawan itu menjawab, “Tidak pernah.”
Tak diduga, sang Nelayan pun memberi komentar dengan percaya diri, “Ah, jika demikian, Anda telah kehilangan semua peluang hidup Anda.”
Apakah pelajaran yang tersirat dibalik kisah singkat ini? Bahwa alangkah tidak baiknya menjadi seorang yang sering meninggikan diri dan merasa lebih hebat dari orang lain.
Sehebat apapun kita, selalu ada orang lain yang bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Dan betapa kita semua memiliki keterbatasan dan selalu membutuhkan orang lain.